Ideologi Dan Takti Front Persatuan Nasional Papua Barat
Oleh: Varra Iyaba
Abstrak
Kita musti sadari bahwa Politik dan ideologi dua hal yang berbedah, politik adalah alat yang menentukan watak ideologi. Ideologi seperti apa yang kami inginkan itu akan di tentukan oleh politik, maka dalam organisasi revolusioner harus mampu menentukan haluan ideologi yang kita inginkan.
Ideologi adalah tujuan tujuan akhir yang diiginkan! System massa rakyat macam apa yang dicita – citalkan! Sampai sekarang ideologi yang menjadi jelas bagi perjuangan adalah ideologi yang berisi nilai – nilai kerakyatan, keadilan, dan demokrasi. Politik Adalah jurus – jurus memainkan pedang. Apakah pedang tersebut digunakan dalam jurus membabat, menangkis, mengindar, menyerang, menuruk leher atau jantung lawan. Politik Adalah soal cara agar bisa menjatuhkan lawan dapat dengan mudah di kalahkan.
Kita telah menyaksikan bersama bahwa sejarah berdirinya negara – negara komunis/ sosialis di dunia melalui fron persatuan yang menentukan watak ideologi. Sejarah pendirian negara komunis di dunia mengalami kontradiksi internal yang berujung pada pengorbanan ribuan nyawa karena pertarungan ideologi.
Jika kita belajar dari revolusi Bolshevik di rusia, maka kita akan memahami perpecahan yang terjadi antara partai Bolshevik yang di pimpin oleh Lenin dan Partai Menshevik di Rusia bukan karena persoalan ambisi kekuasaan struktur dll, akan tetapi karena persoalan ideology.
Kritik Partai Bolshevik yang di pimpin oleh Lenin yang berlawanan dengan Partai Menshevik terlebih pada pandangan ideologi, strategi-taktik (stratak), medote dan pola perjuanganya. “Partai Bolshevik menuduh Menshevik tidak memiliki strategi yang jelas dan ambisius dalam melakukan revolusi. Mereka percaya bahwa revolusi hanya bisa berhasil melalui aliansi dengan kaum tani dan tindakan yang lebih radikal. Menshevik di sisi lain, lebih memilih untuk bekerja sama dengan partai – partai borjuis dalam sebuah aliansi yang lebih luas.
Tetapi partai Bolshevik memiliki keyakinan bahwa proletariat adalah kekuatan revolusioner utama dan harus mengambil alih kekuasaan melalui soviet – soviet mereka. Bolshevik percaya bahwa revolusi harus di ikuti dengan pembentukan negara sosialis yang kuat dan terpusat. Mereka menentang gagasan – gagasan Menshevik tentang negara liberal yang lebih lemah dan birokratis, elitis, dan oportunis.” Dalam pertarungan ideologi antara partai Bolshevik dan Partai Manshevik memakan yang merupakan konflik internal ini memakan korban ribuan nyawa dalam medan pertempuran. Kontradiksi ideologi internal itu yang akhirnya revolusi di menangkan kaum Bolshevik yang di pimpin oleh Lenin sampai pendirian soviet, pada 1917 – 1922 pembentukan front persatuan dalam rangkan pembersihan bauh-bauh kapital.
Kita kalau lihat lagi kritik Partai Komunis Tiongkok yang di Pimpin oleh Mao Zedong terhadap partai Liberal Kuomintang karena perbedaan pandangan ideologi yang memicu perang saudara. Mereka memiliki satu musuh yaitu imperialism jepang yang masuk ekspansi di wailayah tiongkok, tetapi dalam perjuangan mengusir imperialism asing dengan pandangan ideologis yang berbedah tetapi mereka kompromi usir jepang. Setelah partai komunis Tiongkok dan Kuomintang mengusir imperialisme Asing /Jepang, perang saudara masih berlanjut karena pemerintahan pada waktu itu yang di pimpin oleh kelompok liberal Kuomintang, pada akhirnya perang saudara itu di menangkan oleh Partai Komunis Tiongkok yang di pimpin langsung Mao Tse Zedong mendirikan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), pada 1 Oktober 1949.
Tujuan Fundamental Dari Taktik Front Persatuan
Dalam artikel (Goug Lorimer) keluarkam pada 24-25 April 1995 tentang thema; “Aksi Massa, Aliansi, dan Taktik Front Persatuan.”
“Tujuan fundamental dari partai Marxis yang revolusioner Adalah mengorganisasikan revolusi sosialis. Dalam rangka merealisasikan tujuan ini, partai harus memenangkan komitmen ideologi dan politik dari seluruh mayoritas kelas pekerja atau tertindas. Ini tidak dapat di tuntaskan melalui propaganda saja. Ini merupakan sebuah hukum Sejarah Dimana hanya melalui pengalaman kolektif akan perjuangan, akan Tindakan, maka massa rakyat dapat mulai membebaskan dirinya dari dominasi ideologi kelas penguasa dan menjadi mudah mencerap gagasan – gagasan revolusioner.
Tujuan fundamental dari taktik front persatuan bukanlah menunjukkan kaum reformis sebagai pimpinan yang tidak handal. Lebih dari itu, tujuan fundamentalnya adalah memberikan kondisi yang lebih mengguntungkan bagi kaum marxis untuk menunjukkan bahwa mereka Adalah pada pemimpin yang lebih baik dari kaum reformis.
Taktik front persatuan diajukan pertama kali oleh Komunis Internasional di bawah kepemimpinan Lenin dan Trotsky pada tahun 1921-22 untuk menghadapi tantangan mendesak yang di hadapi partai – partai komunis di eropa. Kondisi yang terjadi Adalah bahwa Gerakan buruh di dominasi oleh kepemimpinan reformis borjuis kecil, secara umum kaum sosial demmokrat, yang di penuhi dengan satu pandangan kolaborasi kelas dab anti revolusioner yang utuh.”
Kondisi ini sangat mirip dengan cara pembagunan taktik front persatuan yang ada di Papua, gerakan – gerakan etno-nasional, reformis, birokratis, elitis, dan liberal menolak keberadaan gerakan revolusioner progresif. Gerakan progresif revolusioner di Papua menolaak cara Pembangunan taktik front Persatuan yang membentuk struktur Strias Politika yang justru birokratismelahirkan elitisme. Kaum etno-nasionalis menolak usulan taktik front persatuan revolusioner, dan mereka mempertahankan struktur konservatif yang justru memberikan keuntungan terhadap musuh yang sesunggunya.
Tiga faksi dalam front persatuan ULMWP dan organisasi progresif di luar dari ULMWP terjadi kontradiksi perspektif politik, misalnya pandangan kawan-kawan gerakan progresif revolusioner mengangap bahwa seharusnya mencari format taktik front persatuan yang tepat, untuk membangun kekuatan perlawanan bersama dengan melihat kondisi rakyat yang lagi hancur – hancuran. Front persatuan ULMWP harus mengunakan banyak strategi dan taktik perlawanan, dan bahkan satu kali 24 jam terus berubah demi mencapai kemenangan.
Kelompok Etno-Nasionalis dalam United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) anti kritik, birokrat konservatif, dan menunjukan watak otoritarianisme demi menjaga eksistensi kekuasaan. Sifat – sifat ini bertantangan dengan prinsip – prinsip taktik front persatuan revolusioner di dunia mana pun, dan yang hanya bisa mempraktikan itu kaum ultra kolonialisme demi menjaga eksistensi penjajahan. Hal ini membuat perpanjangkan perjuangan pembebasan nasional Papua Barat.
Model bentuk Front persatuan United Liberation Movement For West Papua (ULMWP), rupanya demikian karena anti terhadap pandangan – pandangan revolusioner untuk memajukkan perjuangan pembebasan nasional Papua barat. Taktik front persatuan United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) menjadi tempat pertumbuhan watak birokratisme konservativ dan anti terhadap organisasi revolusioner progresif. Doug Lorimer pernah katakana dalam artikelnya Aksi Massa, Aliansi, dan Taktik Front Persatuan, pada 1995 bahwa “Esensi dari takti front persatuan hanya dua frasa: Berbaris Sendiri – Sendiri, Berdemonstrasi Bersama! dan Kebebasan Mengkritik, Kesatuan Tindakan!”
United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) ambigu dengan situasi penindasan, eksploitasi, perampokan, marginalisasi, seksisme, dan rasisme terhadap rakyat Papua. Rakyat Papua menikmati penindasan dari sejak 60-an sampai sekarang 2025, dalam dialektika penindasan yang panjang itu melahirkan front persatuan rakyat yang namanya, United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) tetapi front persatuan ini bukan lagi menjadi pedang perjuangan yang mampu memutuskan mata rantai penindasan.
Dan kami katakan ULMWP sekarang ini kumpulan kaum nasionalis konservatif yang tidak memiliki gigi karena tidak punya sikap politik dan ideology yang jelas untuk menentang segala bentuk penindasan yang di langgengkan oleh penjajah di tanah Papua. Dalam kondisi rakyat Papua menerima penindasan yang berlipat ganda, United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) sebagai front persatuan organisasi seharusnya memimpin perlawanan bersama rakyat. Artinya memberikan keyakinan dan membangun kepercayaan kepada rakyat Papua bahwa ada harapan di balik perjuangan pembebasan nasional Papua barat.
Masalah serius lagi tidak ada pendidikan revolusioner dalam United Liberation Movement For West Papua (ULMWP), model begini akan menentukan watak front persatuan yang liberal, nasionalis, elitis, birokratis, dan semi pemerintahan yang konservatif. Pendidikan politik (DIKPOL) yang mampu membentuk watak perjuangan revolusioner, dan menganalisis klas tertindas dalam rangka menjawab perjuangan pembebasan nasional Papua barat.
Pesan Moral Kaum Revolusioner Dunia Tentang Pentingnya Pendidikan Revolusioner.
Kutipan Lenin “Tak ada gerakan revolusioner tanpa teori revolusi. Menyadari perlunya pendidikan jangka panjang, mengajar tema – tema sosialisme dan kesadaran politik kepada masyarakat untuk membangun masyarakat sosialis.”
Kutipan Karl Marx “Ketidaktahuan tak akan pernah menolong siapapun.”
Kutipan Paulo Freire filsuf Brazil “Pendidikan harus membebaskan manusia dari struktur sosial yang menindas.”
Kutipan Antonio Gramsci seorang pemikir Marxis Italia “Intelektual Organik. Intelektual memainkan peran penting dalam membangun hegemoni, yaitu dominasi ideologis kultur dari suatu kelas sosial. Mereka membangun menyebarkan ide – ide yang mendukung kepentingan kelas mereka dan mengerakan perubahan sosial.”
Doug Lorimer, Esensi dari takti front persatuan hanya dua frasa: “Berbaris Sendiri – Sendiri, Berdemonstrasi Bersama! dan Kebebasan Mengkritik, Kesatuan Tindakan!”
Daftar Pustaka
Artikel Doug Lorimer Volume 5 – 6 di terbitkan pada 1995 tentang Aksi Massa, Aliansi dan Taktik Front Persatuan.
Bukunya (Muhadi Sugiono) tentang “Kritik Antonio Gransci terhadap Pembangunan dunia ketiga”
Posting Komentar