Satuan Brimob Kolonialisme Indonesia Melakukan Penangkapan Terhadap 4 Aktivis Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi Se-Sorong Raya
Table of Contents
Jayapura - Komati, Satuan Brimob / Kepolisian Indonesia Melakukan Pengerebekan Dan Penangkapan Terhadap 4 Aktivis Di Kota Sorong Papua, (29/08/2025).
Tepat 16: 29 Waktu Papua, terjadi pengrebakan paksa di rumah Bapak Abraham Goram gaman yg di lakukan oleh brimob menangkap 4 aktivis atas nama Aves susim, kawan Dedy Goram, Maikel wafom, dan Elisa Bisulu. Keberadan ke 4 aktivis yang di tangkap oleh oleh bromob itu posisi mereka belum di ketahui dengan pasti.
Penangkapan terhadap 4 aktivis Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi Se-Sorong Raya ini berawal dari aksi protes atas pemindahan 4 tahanan politik dari Sorong ke Makasar pada 27 Agustus 2025. Dalam Aksi protes berlangsung terjadi penembakan terhadap (MW), penangkapan terhadap 17 orang, dan ditambah 4 orang yang baru di tangkap menjadi 21 orang.
𝐊𝐫𝐨𝐧𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢𝐬 Awal.
Sejak pukul 16:00 WPB (26 Agustus), massa aksi yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi Se-Sorong Raya, bersama keluarga empat tahanan politik (Tapol) Papua Barat (NFRPB) mulai mendatangi halaman Polresta Sorong Kota. Tujuan mereka jelas: menghalangi rencana pemindahan paksa para Tapol NFRPB oleh Kejaksaan Negeri Sorong menuju Makassar, Sulawesi Selatan, untuk disidangkan jauh dari tanah Papua.
Di halaman Polresta Sorong Kota, terlihat satu unit mobil tahanan milik kejaksaan yang diparkir dengan strategi mengelabui massa. Aparat sejak awal sudah menyiapkan pola operasi penuh tipu daya. Namun, massa yang berdatangan semakin banyak dan menutup akses masuk, menjadikan halaman Polresta sebagai ruang perlawanan spontan rakyat dan keluarga.
Pukul 18:00–19:00 WPB, aparat kepolisian mulai melakukan patroli kota dengan 10 motor dan 2 mobil patroli. Suasana Sorong mencekam, seperti kota yang bersiap menghadapi perang, bukan sekadar “pengamanan proses hukum”.
Pukul 22:30 WPB, apel gabungan dilakukan di halaman Polresta. Pasukan tambahan mulai digelar, menandai bahwa negara akan menempuh jalan kekerasan untuk melawan suara rakyat yang menolak pemindahan ini.
Memasuki 27 Agustus, pukul 23:00 WPB, kendaraan taktis tempur seperti Barakuda dan Water Cannon digerakkan ke halaman Polresta. Langkah ini menegaskan, bahwa pemindahan empat Tapol dianggap lebih penting daripada mendengar jeritan keluarga dan rakyat Papua yang menuntut keadilan.
Hingga pukul 01:00–03:00 WPB, massa aksi bersama keluarga tetap bertahan di depan Polresta. Mereka berharap masih ada ruang kemanusiaan—bahwa pemerintah melalui kejaksaan atau Forkopimda Papua Barat Daya akan mendengar suara hati mereka dan membatalkan pemindahan. Namun, harapan itu runtuh ketika pukul 05:30 WPB, aparat mulai membentuk barikade dengan 50 polisi bersenjata lengkap menggunakan tameng, bersiap mengevakuasi keempat Tapol.
Teriakan protes menggema. Tangisan keluarga pecah, menunjukkan betapa luka hukum ini bukan hanya soal prosedur, melainkan soal penderitaan kemanusiaan. Rakyat Papua kembali dipaksa menyaksikan ruang demokrasi dibungkam dengan barikade tameng dan senjata.
Pukul 06:20–06:50 WPB, barikade bergerak maju. Massa didesak mundur dengan kekerasan verbal dan fisik. Suasana berubah panas: ban mulai dibakar, teriakan “Bebaskan!” membahana. Api dan suara rakyat berpadu sebagai simbol perlawanan atas ketidakadilan.
Pukul 07:15 WPB, pasukan tambahan Brimob lebih dari 100 personil dikerahkan dari arah Jembatan Remu (Hansen). Kekuatan negara diperlihatkan secara brutal untuk menghadapi rakyatnya sendiri—sebuah ketimpangan yang nyata antara rakyat tanpa senjata melawan aparat dengan perlengkapan tempur.
Pukul 07:30 WPB, pasukan memaksa massa mundur hingga depan Toko Komputer (Toho Komputer), jauh dari pintu Polresta. Dengan kekuatan penuh, aparat akhirnya membuka jalan untuk proses evakuasi paksa.
Pukul 07:40 WPB, keempat Tapol digiring dengan kawalan kendaraan taktis (Barakuda). Iring-iringan bergerak menuju Bandara Deo Sorong. Massa yang mencoba menghalangi dipukul mundur. Hingga Emosipun tak terbendung lagi—kemarahan rakyat Papua Barat di Sorong akhirnyamenyebar hingga ke berbagai kompleks di Kota Sorong.
Pukul 01: 27 WPB, Pembongkaran rumah aktivis FNMPP (Sayang Mandabayan), Penembakan terhadap (MW), dan penangkapan terhadap 17 Aktivis Solidaritas Rakyat Papua Pro-demokrasi Se-Sorong Raya.
Pukul 8:00 WPB, Massa aksi yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat Papua Pro-demokrasi Se-Sorong Raya dan pihak kepolisian bentrok, polisi membubarkan massa aksi dengan Senjata Api akhirnya massa melakukan serangan balik dengan batu. Dalam proses saling serang antar massa aksi dan Polisi itu ada banyak massa aksi yang terkena peluru gas air mata, sekitaran belasan polisi tembak massa aksi mengunakan kartavel yang berisi batu.
Peristiwa ini bukan sekadar “pemindahan tahanan”. Ia adalah simbol represi politik terhadap rakyat Papua. Aparat negara lebih memilih mengerahkan pasukan tempur daripada membuka ruang dialog. Alih-alih melindungi hak asasi, hukum justru dipakai sebagai alat membungkam suara politik rakyat Papua.
Kita juga telah ketahuan bersama bahwa skalasi represif militer semakin tinggi terhadap warga sipil karena pendoropan elit polisi yang di sebut brimob 100 personil dari Manakwari ke Sorong, pada 28 Augustus 2025.
Pendoropan militer brimob dalam skala besar ke Sorong dan penangkapan terhadap warga sipil semakin brutal ini di sebabkan atas perintah Gubernur Elisa Kambu tanpa memiliki rasa belas kasih terhadap rakyatnya. Gubernur memberikan legitimasi kejahatan kemanusiaan kepada institusi TNI/POLRI untuk menembak warga sipil, menangkap, terror, intimidasi, dan pembongkaran rumah - rumah warga sipil di kota Sorong Papua.
Kejahatan polisi dan tentara kolonialisme Indonesia hari ini di Papua semakin tinggi ini di sebabkan oleh rezim presiden latar belakang seorang militer yang pasti atas intruksinya. Apalagi kita tau bahwa presiden Prabowo Subianto memiliki rekam jejak pelanggaran HAM di Papua.
Eskalasi kejahatan militerisme Kolonialisme Indonesia semakin tinggi maka rakyat Papua jangan tunduk dalam ketakutan tetapi bangkit melawan.
Posting Komentar