ZMedia Purwodadi

Polisi Masuk Dalam Gereja Katedral Katolik Keuskupan Merauke, Menciptakan Bentuk Teror Kepada Umat Dalam Ruangan Gereja.

Table of Contents
Polisi Menciptakan Bentuk Teror Kepada Umat Dalam Gereja Katedral Katolik Keuskupan Merauke, pada Hari Minggu pagi pukul 9.00 Wpb. (05/06/2025). 

Puluhan anggota polisi masuk dalam gereja katedral Merauke atas izinya Uskup Agung Merauke, dan hampir seluruh umat bertanya - tanya kehadiran polisi berpakaian lengkap mengunakan Senjata Api dalam Gereja Katedral Merauke. Uskup Agung Merauke memberi izin militerisme masuk dalam ruangan gereja katedral tidak ada motif lain selain kepentingan ekonomi politik. 

Aparat kepolisian tidak memberi tau kepada umat alasan mereka hadir dalam jumlah besar, tetapi kepolisian dengan watak arogansinya mengeluarkan sikap spontan kalau kehadiran mereka atas pemberian izin dari Keuskukan Agung Merauke. Dengan pernyataan ini, sudah mulai jelas kepentingan militer intervensi Gereja Katedral. Kehadiran militer  untuk menciptakan ketakutan dan teror kepada umat agar tidak boleh ada narasi perlawanan dengan kebijakan Keuskupan Agung Merauke tentang Proyek Strategis Nasional (PSN). 
Perlawanan Masyarakat Adat semakin masif dengan kehadiran Proyek Strategis Nasional (PSN), para kapital mengunakan agama katolik Keuskupan Merauke sebagai alat penaklukan bagi masyakat adat. Kehadiran Militer di dalam gereja untuk melindungi uskup agung merauke yang lagi melanggengkan kepentingan akumulasi model. Selain itu, polisi juga menciptakan pembungkaman ruang kebebasan berpikir dan kebebasan beribadah sebagai umat Tuhan yang mulia. 

Kehadiran Militerisme justru membungkam dan menteror mentalitas umat untuk beribadah secara bebas. Tetapi kehadiran Militerisme justru memberikan tekanan fisikologis terhadap umat yang ingin beribada dan mendengarkan sabda Tuhan. 
Hal ini pihak militer TNI/POLRI melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan hak beribada secara bebas tanpa ada tekanan fisikologis. 

Sumber TKP:
Komite Kota MAI Papua

Posting Komentar